Coklat Panas Untuk Jeje (Inspired by: Jessica Vania)





Jam di tanganku menunjukkan pukul 12.00 siang. Ini adalah saatnya jam istirahat di sekolah. Namun sebelumnya,aku sangat penasaran sekali dengan murid baru disekolahku. Tadi,dia bilang namanya Jessica Vania.Semoga dia anak yang baik,karena dari penampilannya,dia terlihat seperti anak yang judes. Namun entah kenapa,dia sangat menarik perhatianku dengan wajah yang menurutku oriental dan juga rambutnya yang diikat ponytail sehingga pipinya yang menggembung itu terlihat jelas. Rasanya,aku menyukainya di pandangan pertama ini. Dengan agak malu-malu aku menghampirinya.

"Hai,aku Tommy" ucapku dengan agak malu-malu dan menyodorkan tanganku berharap untuk disambutnya.
Namun apa daya,dia hanya melihat ke arahku dan hanya tersenyum sebentar sebelum ia kembali serius membaca buku biologinya dan juga sepertinya dia menambahkan volume di earphonenya. Secara tersirat,ia mengatakan "Sudah ya,aku tak ingin diganggu dulu" Apa boleh buat,aku harus menahan perasaanku ini untuk berkenalan dengannya. Akupun kembali ke tempat dudukku sambil berpura-pura membaca buku. Padahal sebenarnya aku ingin mencuri-curi pandang kepada dia. Dalam fikiranku,yang ada hanyalah Vania,Vania dan Vania.

"Ah sudahlah,suatu saat pasti akan ada waktunya aku akan mengobrol dengan dia" ucapku dalam hati sambil melihat ke arahnya dan tanpa aku sadari diapun melihat ke arahku juga. Aku sontak gelagapan dan pura-pura menengok kebawah meja seakan mencari barangku yang jatuh. Tak disangka,saat aku tidak melihat kebawah lagi,dia sudah duduk di kursi depan mejaku dan melihat ke arahku. Dan akupun hanya diam terpaku saja,tidak tahu apa yang akan kulakukan selanjutnya.
"Tom,kenapa diem aja? Tadi ngajak ngobrol,kok sekarang diem sih? Tom? Masih idup kan? Atau udah dikutuk sama medusa jadi batu nih diem mulu? Hahaha..." Ucapnya sambil melihat-lihat kearah wajahku seakan penasaran namun agak sedikit meledek. "Sial,gua di troll nih sama dia" ucapku dalam hati. Dan dengan menguatkan mental,aku menjawabnya "Eh,kenapa? Dikutuk? Gak lah,cuma kaget aja kamu bisa ngomong ternyata. Soalnya aku tadi ajak ngomong gak nyaut" balasku kepadanya.
"Ya bisa lah... Cuma tadi lagi serius aja baca buku sambil dengerin musik. Kalau lagi gitu,aku gak mau diganggu soalnya. Maaf ya..." Jawabnya dengan diakhiri senyuman manis yang muncul dari bibirnya ditambah dengan pipinya yang menggembung secara alami.
"Oh iya,tidak apa-apa kok" jawabku kepadanya. Namun keringat dinginku mulai keluar,karena aku sangat gugup dihadapannya
"Oh iya,kamu Tommy ya? Aku Jeje,itu panggilanku sehari-hari" Ucapnya sambil menjulurkan tangannya. Dan seakan reflek,akupun menyambut tangannya dan menggenggamnya. "Oh iya,aku Tommy" ucapku sambil gemetar menggenggam tangannya. Dan bertepatan saat aku bersalaman dengannya,teman-temanku yang lain masuk kedalam kelas.
"Ciyee... Tommy udah modusin anak baru aja nih..." Ucap Iqbal teman sebangku diriku. "Awas loh je,Tommy playboy cap ular kobra loh... Ntar kamu kena lagi" Ucap Shinta teman sebangku Jeje dan diiringi oleh teman-teman yang lain. Jujur aku malu,namun malu yang aku rasa seakan hilang saat aku melihat pipi Jeje yang memerah karena malu juga. 
"Imut banget kamu Je" ucapku pelan,karena tak sengaja aku nengucapkannya. Dan Jeje pun menoleh kearahku "Kenapa Tom?" Tanyanya dengan rasa ingin tahunya. "Eh,gak apa-apa kok. Eh iya,itu udah bel. Balik ke tempat dudukmu lagi aja deh. Bentar lagi Bu Ambar masuk loh. Dia kan guru tergalak disini" ucapku mengalihkan perhatian,dan Jeje pun kembali ke bangkunya.

Hari berganti hari dan bulan berganti bulan. Kini aku dan Jeje sudah semakin dekat,kami saling mengenal satu sama lain dengan baik. Dan ya,Jeje sudah tahu kalau aku adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal sendiri di kota ini. Dan aku membuka usaha cafe kecil-kecilan dirumahku. Jeje sering ketempatku,dia membawa teman-temannya untuk sekedar menghabiskan waktu. Karena menurut dia dan teman-temannya,cafeku adalah yang terbaik di kota ini. Suasananya nyaman,rasa dari minumannya pun cocok di lidah dan tenggorokan mereka. Kadang,aku iri dengan mereka. Kapan aku bisa jalan-jalan seperti mereka? Kapan aku punya baju bagus seperti mereka? Sepintas,teringat kejadian delapan tahun yang lalu. Saat itu kedua orang tuaku sedang ada diluar kota untuk menghadiri acara kantor. Dan aku adalah anak tunggal yang tidak biasa ditinggal oleh kedua orang tuaku,aku manja. Dan saat orang tuaku sedang acara,aku pun menelfon mereka beberapa kali. Aku tak punya perasaan,yang aku pikirkan adalah aku ingin selalu bersama mereka. Tak kusadari,ayahku membawa mobil dengan sangat cepat karena tak tega aku menangis saat di telfon. Dan akhirnya,mobil ayah menabrak sebuah bis yang datang dari arah berlawanan. Ayah dan ibuku meninggal seketika di tempat.

Kejadian itu sampai sekarang masih terkenang di anganku. Sampai sekarang,aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Dan tak kusadari,air mata telah keluar dari mataku. Seseorang yang menyadarkanku adalah Jeje,dia menepuk pipiku "Tom,kenapa? Kok nangis?" tanya jeje.
"Oh gak apa-apa kok. Cuma keinget ayah ibu aja kok Je. Oh iya,coklat panasnya enak? Teman-teman kamu suka gak sama minuman buatanku?"tanyaku sembari mengalihkan perhatian.
"Seperti biasa lah,buatanmu selalu enak Tom. Di kota ini gak ada yang lebih baik dari kamu deh..." Ucapnya menghiburku seakan tahu kalau aku takut minumannya tak enak.
"Makasih ya Je. Oh iya,teman-temanmu kan sudah pulang,dan disini tinggal kita berdua saja. Kamu mau aku buatkan coklat hangat lagi? Nanti kita minum bersama di belakang rumah sambil menikmati malam. Kali ini,aku beri gratis deh" Tanyaku kepada Jeje sambil menulis jumlah pemasukan hari ini.
"Lalu,cafe ini gimana? Kan gak ada yang jaga" ucapnya sambil duduk di kursi yang biasa disediakan untuk pelanggan yang memesan Take Away didepan kasir.
"Sudahlah,gak akan apa-apa kok. Sepertinya malam ini sedang indah,dan aku ingin menghabiskan malam ini denganmu. Lagipula,kamu baru akan dijemput jam sembilan nanti kan?" ucapku merayunya.
"Oke deh boleh,kamu bikinin aku coklat hangat yang special ya. Aku tunggu di belakang" ucap Jeje sambil berjalan kearah halaman belakang.

Akupun hanya tersenyum dan berkata dalam hati "Pasti Je,aku akan membuatkanmu yang terbaik. Dan sekarang aku ingin mengungkapkan perasaanku kepadamu"
Setelah membuat 2 coklat panas untukku dan Jeje,aku membawanya kebelakang dan memberikannya kepada Jeje. Kami menikmatinya sambil bercanda. Dan sampai di suatu momen yang pas,aku pun menggenggam tangannya dan mengungkapkannya 
"Je,aku gak tau mau mulai darimana. Tapi yang pasti aku udah suka kamu dari sejak kita pertama bertemu. Aku sayang kamu,aku ingin jadi pacarmu. Namun aku takut mengungkapkannya,aku minder Je. Aku orang tak punya,kamu orang berada. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaan ini je,lama-lama dipendam ternyata sakit juga."ucapku yang disambut dengan ketawa kecil Jeje yang membuatku bingung. 
"Kok ketawa? Aku aneh ya?"tanyaku seakan pasrah akan ditolak oleh Jeje. Dalam hatiku berkata “Mati lah aku,pasti setelah ini aku akan mendengar kata-kata tolakan dari Jeje dan dia mulai ill feel sama aku”dan ternyata,sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
"Iya,kamu aneh Tom. Kamu kenapa gak bilang dari dulu? Aku juga suka loh sama kamu dari dulu. Kamu lucu,wajahmu kalau lagi grogi itu lucu banget. Kamu nembak aku dari awal juga aku gak nolak kok Tom" jawab Jeje yang membuatku kaget dan seketika membuat senyumku merekah. "Tapi ada syaratnya,kamu harus membuatkanku coklat hangat setiap hari ya,itu mood maker aku banget. Kamu gak keberatan kan? Aku tetep bayar kok,tenang..." ucapnya kepadaku seakan dia mengira kalau aku takut dia tidak akan membayar semua coklat hangat yang ia pesan.
"Ah udah lah,untuk pacarku untuk apa aku meminta bayaran?" Ucapku sambil mengedipkan mata kananku kepada Jeje. Seakan waktu berhenti,kita tertawa bersama-sama. Ya,sejak saat itu kami berpacaran. Sejak keesokan harinya dan hari-hari berikutnya,coklat panas aku selalu bawa untuk Jeje di Sekolahnya. Jeje pernah bercerita,dia ingin mengikuti audisi sebuah idol grup dalam lima bulan lagi. Aku tentu saja mendukungnya,karena aku ingin melihat Jeje sukses.

Suatu malam,aku bermimpi yang tak jelas. Dan saat terbangun,entah kenapa yang ada dipikiranku adalah Jeje. "Apakah itu sebuah pertanda sesuatu yang buruk terjadi padanya? Ah semoga saja tidak" ucapku dalam hati.
Saat aku akan kembali tidur,ternyata waktu sudah menunjukkan pukul lima subuh. Aku sudah harus bersiap-siap kesekolah. Dan tak akan pernah melupakan satu hal. Ya,membuatkan coklat hangat untuk seorang Jessica Vania. Kekasihku yang sangat aku sayang karena dia mungkin satu-satunya semangat hidupku saat ini.
Tiba di sekolah,aku menunggu di mejaku kehadiran seorang bidadari yang sudah lama hadir di kehidupanku. Namun,hingga bel masuk berbunyi dia tidak juga datang. Bahkan hingga bel pulang pun dia tak juga datang. Ingin aku menelponnya,namun Jeje pernah bilang ponselnya sedang bermasalah. Jadi tak bisa dihubungi untuk beberapa waktu sampai dia akan menghubungiku kembali. Dan coklat panasnya? Aku berikan saja ke satpam sekolah.
Hari ini adalah hari kelima Jeje tidak masuk sekolah,akupun menanyakan kepada Shinta. Dan kabar yang membuatku terkejut,adalah Jeje masuk rumah sakit. Penyebabnya? Dia mengalami gagal ginjal dan dia ada di rumah sakit untuk perawatan. Saat pulang sekolah,akupun langsung menuju rumah sakit dimana Jeje dirawat. Aku melihat Jeje,namun dia sedang tertidur. Mamanya melihatku,dan mempersilahnkan masuk dengan memberi isyarat agar aku tidak terlalu berisik saat masuk. Aku dan mamanya mengobrol cukup lama. Sampai di suatu percakapan yang membuatku tersentak.

"Kalau dalam tiga hari ini Jeje tidak mendapatkan donor ginjal,maka Jeje akan pergi untuk selamanya" ucap mamanya Jeje sambil meneteskan air mata. 

Aku terkejut dengan ucapannya,air mataku perlahan menetes."Jika tak ada Jeje,siapa yang menjadi penyemangat hidupku? Jika tak ada Jeje,untuk siapa coklat hangatku? Jika tak ada Jeje,untuk apa aku hidup?" dan berbagai pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiranku. Aku menggenggam tangan jeje,dan mencium punggung tangannya. Setelah itu,aku berkata kepada mamanya Jeje "Tante,Tommy akan berusaha mencarikan donor untuk Jeje. Tante tenang saja ya. Oh iya,kalau Jeje bangun berikan ini padanya ya. Ini coklat hangat kesukaan Jeje. Tanpa diberitahu,dia akan tahu itu dari siapa. Dan sekarang Tommy pamit pulang dahulu ya tante" ucapku sambil memberikan tempat minum tahan panas berisikan coklat hangat kepada mamanya Jeje dan tak lupa mencium tangannya untuk pamit. "Terima kasih ya Tommy sudah menengok Jeje. Hati-hati dijalan" ucap mamanya Jeje. Akupun mengangguk dan berjalan keluar ruangan.
Pulang? Tidak... Aku mencari ruang dokter yang merawat Jeje. Dan akupun menawarkan diri untuk mendonorkan ginjalku untuk Jeje. Dokter menyetujuinya. Aku meminta,agar namaku dirahasiakan supaya Jeje dan keluarganya tidak ada yang tahu bahwa aku yang mendonorkan ginjalnya. Dokter mengerti,dan esoknya ginjalku diambil. Setelah operasi,aku hanya tiduran saja di kamarku. Ya,aku bilang aku ingin langsung pulang karena tidak bisa membayar biaya kamar di rumah sakit. Namun karena aku masih harus mendapatkan perawatan,pihak rumah sakit membebaskan biaya perawat yang merawatku di rumah.
Kini,sudah dua bulan sejak Jeje mendapatkan ginjal dariku. Dia sekarang sudah lincah lagi,sering bercanda,dan senyuman indahnya tak akan pernah hilang dari wajahnya yang imut itu. Ingin rasanya melihat terus wajahnya Jeje,namun rasanya badan ini terus menerus melemah setiap harinya. Namun didepan Jeje aku harus kuat. Ya,aku harus kuat demi seseorang yang aku cintai. Aku tak ingin dia sedih saat mengetahui keadaanku yang sebenarnya. Melihat seorang Jeje tersenyum dan tertawa setiap harinya adalah kebahagiaan dan kekuatan bagi diriku. Setiap hari,yang kuingat adalah Jeje,Jeje,Jeje,dan Jeje. Saat di sekolah,aku akan bersemangat saat sudah melihat wajahnya. Dirumah,saat aku lelah mengurusi cafe atau mungkin saat sedang terbaring di tempat tidur,yang aku lihat adalah foto Jeje. Dan saat ku bangun dari tidur,hal yang membuatku semangat adalah membuat coklat panas untuk Jeje. Setelah itu,aku akan kembali bersemangat. Di hari libur,aku tidak membuat coklat panas di pagi hari. Karena Jeje siang selalu datang dengan teman-temannya. Aku sangat bersyukur memiliki Jeje. Dia tidak malu berpacaran denganku yang secara ekonomi jauh sekali denganku. Malah dia membanggakanku dihadapan teman-temannya. Entah apalagi bentuk terimakasih yang dapat kuberikan kepada Jeje selain coklat hangat yang akan selalu aku buatkan untuknya dengan sepenuh dan setulus hatiku.
Waktu memang hal yang akan berlalu secara cepat jika kita menikmatinya. Ya,Jeje esok hari sudah mulai masuk ke karantina karena dia termasuk orang yang lolos ke tahap audisi final idol grup itu. Sebelum masuk karantina,kami sempat berbicara "Je,semangat ya. Aku akan selalu mendukungmu,dan ini seperti biasa ada coklat hangat untukmu. Semoga kamu suka dan gak bosen ya" ucapku sambil memberikan tempat minum berisikan coklat hangat itu sambil mengelus rambutnya yang halus. Dan tanpa kuduga,Jeje memelukku "Makasih ya Tom,kamu selalu bikin hari-hari aku berwarna. Aku bakal kangen sama coklat hangat buatanmu ini Tom".
Kurasakan ada air di dadaku,dan ternyata itu adalah air mata Jeje. "Je,kenapa kamu nangis? Air mata kamu sayang banget kalau dikeluarin percuma kyk gini... Tersenyumlah" Ucapku sambil mengusap air matanya. Dalam hati aku seakan berteriak kepadanya "Je,jangan nangis. Tersenyumlah... Berikan aku semangat. Kondisiku sudah sangat lemah,dan aku butuh semangat darimu. Ayo Je,jangan menangis!!"
Hati kami sepertinya sudah terhubung,Jeje berhenti menangis dan mulai tersenyum. "Baiklah,aku tak akan menangis. Aku tak ingin membuatmu bersedih. Sampai jumpa Tommy,aku harus masuk sekarang"ucap jeje sambil masih memelukku. Dan aku pun perlahan melepaskan pelukannya "Ok deh Je,sukses ya... Kamu harus lolos demi aku pokoknya..."ucapku merayunya sambil menyemangatinya.
"Baiklah Tommy,daahh...."ucapnya sambil melambaikan tangan kearahku dan berlari menuju dalam. Untuk membalasnya,aku berteriak seakan menghabiskan suaraku "GANBATTE JEJE!!!!" Dan Jeje melihatku dengan senyuman dan kembali menuju dalam.
Aku ditemani oleh Iqbal teman sebangku ku di kelas. Setelah masuk mobil Iqbal bertanya "Cuci darah sekarang?"
"Ya,dan aku mau dirawat di rumah sakit saja." Jawabku sambil melihat ke arah gedung dimana Jeje dikarantina. Dalam hati aku berkata "Je,lanjutkan hidupmu yang menyenangkan ya. Gapai impianmu"

Tidak terasa sudah seminggu aku di rumah sakit. Cafeku sekarang Iqbal yang menjaga. Tiba di hari dimana hari pengumuman hasil audisi dan karantina tersebut. Iqbal dan Shinta ada di rumah sakit menemaniku. Ya,mereka berdua tahu kalau aku sudah bisa dibilang sekarat sejak lama. Namun mereka dapat merahasiakannya dari Jeje karena aku yang meminta dan mereka tak ingin Jeje bersedih.
Tiba-tiba mamanya Jeje mengirim pesan singkat ke ponselku,isinya "Tommy,Jeje berhasil lolos audisi. Terima kasih atas dukungannya ya. Oh iya,tolong buka E-Mail mu. Ada gambar kiriman dari tante.".Aku langsung menyuruh Iqbal membuka E-Mail ku. Dan ternyata,gambar itu adalah saat Jeje sedang latihan bernyanyi dia menggunakan tempat minuman dariku. Ada pesan dibawahnya tertulis "Tommy,Jeje selalu giat berlatih karena kamu loh. Ini tante curi-curi kesempatan untuk foto"
Bahagia,tentu saja... Namun ternyata takdir berkata lain. Tubuhku melemah,dan aku langsung membuat sepucuk surat untuk Jeje dan aku berikan kepada Iqbal "Iqbal,Shinta,tolong jaga Jeje baik-baik. Jangan sakiti dia,jangan buat dia sedih,dan jangan lupa bal,berikan dia coklat panas terbaik" Itulah kata-kata terakhirku sebelum aku meninggalkan dunia ini. Dan aku langsung dimakamkan tanpa Jeje tahu.
Keesokan harinya,Jeje datang ke Cafe dan bertemu Iqbal. "Eh Jeje,duduk dulu Je. Bentar ya..."ucap Iqbal sambil menyiapkan secangkir coklat panas untuk Jeje. Dan Iqbal memberikannya kepada Jeje "Je cobain,ini enak gak? Ya walaupun mungkin gak seenak buatan Tommy". Jeje mencoba coklat itu,dan berkata "Enak,sama kok seperti buatan Tommy. Eh iya,Tommy mana?"tanya Jeje yang membuat kaget Iqbal. Iqbal tidak berkata apa-apa,dan hanya memberikan sepucuk surat. "Je,bacalah surat ini. Aku masuk dulu mau ambil gelas"ucap Iqbal sambil masuk kedalam rumah Tommy dengan alasan akan mengambil gelas. Namun sebenarnya,dia tidak tega melihat reaksi Jeje. Setelah Iqbal masuk,dia mengintip keluar lewat jendela. Mengintip Jeje yang mulai membuka amplopnya dan membaca surat dari Tommy yang isinya:

"Untuk Jeje.
Selamat ya kamu udah lolos dan keinginanmu tercapai. Tapi maaf,aku tak bisa menemanimu lagi. Aku sekarang sudah menyusul ayah dan ibuku. Je,jangan bersedih ya. Aku akan selalu bersama dirimu kok. Setiap coklat panas yang kamu minum,akan membuat aku semakin dekat denganmu. Apakah Iqbal membuatkan coklatnya sama denganku? Aku harap iya,karena ia sudah kulatih membuat coklat panas yang sama sepertiku. Kamu tau gak yang jadi donor ginjal kamu itu siapa? Itu aku Je. Jadi,aku gak akan pernah jauh darimu. Aku selalu ada didalam dirimu. Semangat menjalani harimu ya Je,kamu adalah anugrah terindah dari Tuhan yang pernah aku miliki. Dan cintaku padamu kubawa sampai aku mati. Aku akan selalu tersenyum untukmu dari Surga. Jangan bersedih ya Je,berjanjilah kepadaku. Aku mencintaimu selamanya...
                                                                                                      Yang selalu mencintaimu,Tommy"

Tak ada yg bisa Jeje lakukan selain menangis dengan kerasnya. Iqbal dan Shinta keluar untuk menenangkan Jeje,dan mengingatkan kalau Tommy tak ingin kalau dia bersedih. Jeje agak mulai berhenti menangis,dan ia minta diantarkan ke makam Tommy. Setelah sampai makam Tommy,Jeje berdoa disamping makam Tommy. Seakan Tommy tahu bahwa Jeje datang,awan putih menutupi sinar matahari yang terik dan membuat suasana menjadi teduh. Anginpun bertiup sepoi-sepoi,seakan Tommy memerintahkan angin agar Jeje tidak merasa kepanasan. 

Setelah berdoa,Jeje tersenyum melihat ke arah makam Tommy dan berkata:
"Terimakasih Tom atas segalanya. Kau sudah tiadapun,aku masih merasakan kehangatan sebuah cinta tulus darimu. Aku akan berusaha sukses demi kamu Tom,dan demi membayar coklat panas yang selalu kau buatkan dengan sepenuh hati untukku yang mungkin tak akan pernah bisa kubalas dengan apapun juga. Dan kamu kini mengajarkanku,cinta adalah sesuatu yang tidak hanya untuk dilihat saja. Namun yang terpenting,cinta adalah untuk dirasakan. Aku akan merindukanmu Tommy. Datanglah ke mimpiku setiap malam,aku menunggumu" Ucap Jeje sambil meneteskan air mata entah bahagia entah sedih. Bahagia karena ia menemukan Tommy. Sedih karena ia ditinggalkan Tommy,orang yang menyayangi dan mencintainya sepenuh hati. Setelah itu,Jeje menjalani hari-harinya dengan penuh semangat dan senyuman ditemani oleh coklat panas yang selalu ada untuknya. Karena bagi Jeje,coklat panas dan ginjal Tommy adalah hal yang akan selalu membuat Tommy terasa dekat untuknya....


writer: #minVe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar